Bagaimana Sih Sejarah Perpetaan di Indonesia?

SEJARAH PERPETAAN DI INDONESIA

        Catatan sejarah Cina yang disusun pada tahun 1369 dan 1370, menyebutkan bahwa pada penyerbuan tentara Yuan ke Jawa tahun 1292-1293, Raden Wijaya (salah seorang pemimpin kerajaan Kediri) mempersembahkan sebuah peta kepada para penyerbu sebagai tanda menyerah.

        Peta bersangkutan disajikan dengan cara pemintalan pada bahan kain putih menggunakan tinta indigo yang biasanya digunakan untuk bahan pencelupan. Peta tersebut menyajikan unsur geografi seperti gunung, pegunungan, sungai, dan kampong dengan simbol yang unik, yaitu sungai disajikan dengan simbol berbentuk ular, gunung dengan bentuk simbol segitiga.

  • Abad 16-18

        Peta Indonesia mulai digunakan sejak orang Portugis datang pertama kali ke Indonesia. Penjelajah dari Venesia, Ludovic Varthena, menyebutkan bahwa seorang mualim pribumi telah berlayar dari Kalimantan menuju Jawa pada tahun 1505 dengan menggunakan peta sebagai petunjuk. Pada tahun 1511, sebuah ekspedisi Portugis pergi ke pulau Jawa dan Maluku; Francisco Rodrigues, seoarang ahli kartografi menyertai ekspedisi membuat peta dari kepulauan dan perairan yang dikunjungi.

        Sekitar tahun 1540 Munster/Holbein mempublikasikan untuk pertama kalinya peta Sumatera (Taprobana) termasuk di dalamnya Java Minor sebagai Borneo yang terletak di sebelah utara Jawa (Java Mayor)

Peta Taprobana

            Selain peta diatas, pada abad ke XVI ini, sebuah peta lain yang perlu dicatat adalah peta Jawa yang dikenal sebagai Java Insula, diterbitkan oleh Johannes Honter dari Kronstad pada tahun 1561.

Peta Jawa Kuno

            Pada akhir abad ke XVI, Belanda telah memiliki perdagangan yang kuat di Baltik dan Laut Tengah. Akibat ditutupnya semua pelabuhan di Portugis bagi orang Belanda, mereka memutuskan untuk mencoba dan menemukan jalan sendiri ke daerah rempah-rempah di Timur. Untuk dapat mencapai tempat tersebut, mereka belajar sesuatu tentang perdagangan Asia, jalur pelayaran dan geografi ‘Asia Portugis’. Selain itu, Belanda berusaha untuk mendapatkan satu set naskah peta yang dibuat oleh pembuat peta Spanyol, Bartolemeo de Lasso dan De Houtman bersaudara. Pada tahun 1595, orang Belanda berlayar ke Timur dan tiba di Banten tahun berikutnya. Batavia, sekarang Jakarta, menjadi pusat perdagangan, politik, dan navigasi Belanda. Sebuah kantor pemetaan ditempatkan di galangan kapal di Batavia, dan di kantor tersebut para pembuat peta bekerja hanya untuk kepentingan VOC.

Peta Bartolemeo de Lasso

            Pada abad ke XVIII, peranan militer bertambah penting dalam pembuatan peta Indonesia; mereka mulai membuat peta topografi daerah sekitar Batavia, Semarang dan tempat lain. Francois Valentijn (1666-1727) seorang anggota misionari, dalam menjalankan tugasnya memperoleh peta topografi dari beberapa kota di Jawa antara lain, Tanjung Bantam (Banten), Batavia (Jakarta), Cirebon, Mataram (Yogyakarta), Ponorogo, Surabaya, Pasuruan, dan Balambouang. F de Haan pada tahun 1780 melalui buku dengan judul “Platen Album Oud Batavia” mengkisahkan sejarah kota Batavia; buku tersebut dilengkapi dengan peta kota Batavia tahun 1629, tahun 1740, dan tahun 1780 yang disajikan dalam bentuk peta hitam putih.

Peta Batavia Tahun 1629

  • Abad 19-20

        Pada pertengahan abad ke XIX, orang Indonesia mulai memainkan peran yang penting dalam pembuatan peta. Peran sebagai pemberi informasi berubah menjadi sebuah peran yang lebih aktif dalam survey dan pembuatan peta. Pada tahun 1850-an, pemuda Jawa dari keluarga bangsawan mulai bekerja pada Dinas Topografi, dan mulai tahun 1899 lebih banyak lagi orang Indonesia yang dididik sebagai ahli topografi.

        Pioner lain yang perlu ditulis sebagai pembuat peta Indonesia adalah Franz Wilheim Junghuhn (1804–1864). Pada saat pertama kali datang ke Indonesia, Junghuhn bertugas sebagai dokter tentara, kemudian ia tertarik pada surveying; tahun 1835 sampai tahun 1848 ia mendapatkan kesulitan untuk menjelajahi seluruh Jawa. Hasil survey yang dilakukan tersebut disajikan pada peta topografi, peta biologi, serta peta geologi Jawa. Pekerjaan ilmiah yang dilakukan tersebut menghasilkan publikasi yang berjudul “Java, Zyne gedaante, zyne platentooi en inwendigebouw” (1853) (Java, the shape, flora and its inner structures) dengan jumlah 4 volume dilengkapi peta Jawa skala 1:450.000, suatu penyajian peta topografi pertama dalam bentuk berwarna.

Peta Jawa Oleh FW. Junghuhn tahun 1860

            Pada tahun 1897 ada 2 (dua) peta yang dihasilkan yaitu peta Soerabaja 1:50.000 dan peta Batavia 1:60.000. Jika diperhatikan secara mendetil, kedua peta tersebut secara kartografis sangatlah baik dan memenuhi kaidah-kaidah kartografi. Legenda atau keterangan tentang suatu tempat yang terdapat pada peta ditulis dengan sejenis pena tanpa suatu peralatan khusus. Para pembuat peta yang ada saat ini seharusnya banyak belajar jika melihat peta yang dihasilkan di tahun 1897 tersebut. Walaupun pembuatannya dilaksanakan dengan teknologi yang terbatas, tetapi kartografer yang ada mampu menghasilkan peta berwarna yang baik. Hanya disayangkan, informasi tentang proses atau metode  pemetaan yang digunakan saat itu tidak ditemukan di catatan sejarah peta di Indonesia.

Peta Soerabaja Tahun 1897

Peta Batavia Tahun 1897

                Pada pertengahan pertama abad ke XX, Dinas Topografi memperkerjakan lebih dari 500 orang (sebagian besar orang Indonesia) untuk membuat peta topografi Indonesia. Ribuan peta topografi dihasilkan oleh Dinas Topografi. Pada tahun 1938 diterbitkan sebuah karya besar Dinas Topografi yaitu Atlas van Tropisch Nederland. Peta Indonesia yang rinci karya Dinas Topgrafi dan lembaga lain, baik pemerintah maupun swasta; oleh orang lain digunakan sebagai peta dasar untuk pembuatan dan penerbitan atlas sekolah.

Peta Atlas van Tropisch Nederland

                Selama perang dunia kedua antara tahun 1942-1945, pihak sekutu yang terdiri dari US Army Map Service (AMS), the Royal Australian Survey Corps (RASC), the British Directorate of Military Survey, melakukan kompilasi seluruh daerah wilayah Indonesia seluas kurang lebih dua juta kilometer persegi. Pulau Jawa, Madura, Bali, Sulawesi Selatan, dan beberapa kota besar di Sumatera yang dipetakan dengan skala peta 1:50.000 berdasarkan kerangka geodesi; sisanya berupa peta ikhtisar dengan beberapa variasi skala peta 1:100.000, 1:200.000, 1:250.000 dan 1:500.000. Peta–peta Indonesia tersebut dibuat dalam berbagai skala dalam satu sistem Jaring Kontrol Geodesi.

                The Japanese Army juga melakukan penggambaran ulang atau pencetakan ulang sebagian besar seri peta topografi Indonesia. Bagian terpenting dari kontribusi the Japanes Army dalam pembuatan peta kepulauan Indonesia adalah pembuatan peta antara tahun 1943 sampai tahun 1944 dengan foto udara untuk daerah Sumatera pada skala peta 1:100.000, selain itu juga mempublikasikan bermacam peta topografi dan foto udara daerah Irian Jaya, Sumatera dan Kalimantan.

Peta Djakarta dari AMS
  • Tahun 1950-1990

                Periode 1950-1970 adalah periode Direktorat Jawatan Topografi Angkatan Darat. Anggaran yang tidak cukup tersedia pada Direktorat Jawatan Topografi AD menyebabkan tidak banyak tercatat kemajuan selama periode 1950-1970; sejak tahun 1950 praktis tidak ada pemetaan baru. Pekerjaan dengan anggaran yang sangat terbatas hanya meliputi revisi peta-peta lama serta kompilasi peta-peta skala kecil 1:250.000 dan 1:1.000.000. Pada tahun pertama Pelita 1 (1969/1970) dimulai pemetaan baru daerah Kalimantan Barat dengan bantuan teknis Australia dalam rangka Defence Cooperation. Anggaran counterpart disediakan oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan, sedangkan pelaksana dipihak Indonesia adalah Jawatan Topografi AD (Gambar 1.7), dan dipihak Australia adalah Royal Australian Survey Corps dari Department of Defence. 

                Pada tahun 1952 Badan Penerbit Djambatan N.V telah menerbitkan Atlas Semesta Dunia. Atlas ini disusun oleh redaksi yang terdiri dari Adinegoro, Adam Bachtiar, Drs. W.F. Heinemeyer, Drs. J.E. Romien, dan Sutopo. Kartografi dibuat oleh N.V Cartografisch Instituut Bootsma-Falkplan di 's-Gravenhage dan dicetak oleh N.V. Boek En Kunstdrukkerij V/H Mouton & Co di 's-Gravenhage. Pada kata pengantar Redaksi Atlas menulis bahwa atlas ini dipersembahkan kepada masyarakat Indonesia sebagai suatu sumbangan pembangunan dunia kebudayaan nasional. Redaksi atlas juga menulis bahwa ada rasa bangga karena dengan ini lahir sudah atlas dunia besar yang pertama kali bercorak Indonesia, bukan hanya memakai bahasa Indonesia dan banyak peta tematik Indonesia, tetapi juga karena atlas ini berpusat ke Asia.

Peta Jawa Barat di Atlas Semesta Dunia 1952

                Atlas Semesta Dunia adalah atlas pertama Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, suatu kebanggaan sendiri bagi para pembuat atlas atau peta Indonesia.

                Pada tahun 1970/1971 dimulailah Proyek Pemetaan Dasar Nasional oleh Bakosurtanal dengan anggaran dari APBN. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen dibawah Presiden yang pembentukannya berdasarkan Keppres RI Nomor 83 tahun 1969 tanggal 17 Oktober 1969. Adapun tugas Bakosurtanal adalah meneruskan usah-usaha koordinasi guna mencapai efisiensi dan pemanfaatan semaksimum mungkin potensi nasional dalam bidang survey dan pemetaan, disamping sebagai badan yang merencanakan dan melaksanakan program survey dasar sumber alam serta pemetaan dasar nasional.

                    Pada tahun 1985 pemerintah Indonesia menerima bantuan ketiga Bank Dunia untuk “National Mapping and Settlement Planning” yang merupakan komponen proyek Bank Dunia Trans-V; bantuan tersebut digunakan untuk melengkapai program pemetaan dasar nasional. Pelaksanaan pekerjaan pemetaan dasar nasional tersebut selain dilakukan oleh Bakosurtanal;  untuk pertama kalinya perusahaan swasta di bidang pemetaan bekerjasama dengan perusahaan asing dalam bentuk konsersium diberi kesempatan melaksanakan pembuatan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:50.000 untuk daerah Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Mulai tahun 1990, perusahaan swasta Indonesia yang bergerak di bidang survey dan pemetaan mulai diberi kepercayaan penuh oleh Bakosurtanal untuk pembuatan peta Rupabumi (Topografi) skala 1:25.000 daerah Pantai Utara Jawa, sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur.

Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1:50.000

        Pada tahun 1970/1971 dimulailah Proyek Pemetaan Dasar Nasional oleh Bakosurtanal dengan anggaran dari APBN. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen dibawah Presiden yang pembentukannya berdasarkan Keppres RI Nomor 83 tahun 1969 tanggal 17 Oktober 1969.

       Adapun tugas Bakosurtanal adalah meneruskan usah-usaha koordinasi guna mencapai efisiensi dan pemanfaatan semaksimum mungkin potensi nasional dalam bidang survey dan pemetaan, disamping sebagai badan yang merencanakan dan melaksanakan program survey dasar sumber alam serta pemetaan dasar nasional.

        Pada tahun 1985 pemerintah Indonesia menerima bantuan ketiga Bank Dunia untuk “National Mapping and Settlement Planning” yang merupakan komponen proyek Bank Dunia Trans-V; bantuan tersebut digunakan untuk melengkapai program pemetaan dasar nasional.

        Pelaksanaan pekerjaan pemetaan dasar nasional tersebut selain dilakukan oleh Bakosurtanal. Untuk pertama kalinya perusahaan swasta di bidang pemetaan bekerjasama dengan perusahaan asing dalam bentuk konsersium diberi kesempatan melaksanakan pembuatan Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:50.000 untuk daerah Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

        Mulai tahun 1990, perusahaan swasta Indonesia yang bergerak di bidang survey dan pemetaan mulai diberi kepercayaan penuh oleh Bakosurtanal untuk pembuatan peta Rupabumi (Topografi) skala 1:25.000 daerah Pantai Utara Jawa, sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur.


Sumber Materi : Buku Kartografi, Hadwi Soendjojo, Akhmad Riqqi, Penerbit ITB 2012






Komentar